Psikologi Pendidikan, Kesiapan Dalam Belajar

Nama : Cindra Nurdi

Universitas Islam Indonesia

YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR

Bismillah wal hamdulillah, assholatu wassalamu ‘ala Rosulillah, Muhammadini ‘abdillah, wa ’ala alihi wa shohbihi wamaw walah, ‘amma ba’du.
Segala puji milik Allah swt, yang selalu memberikan nikmat kepada seluruh umat manusia, teruma nikmat kesehatan dan kesempatan. Dengan adanya nikmat kesempatan dan kesehatan ini, alhamdulillah kami dari kelompok lima (V/5) dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini merupakan kewajiban bagi kami untuk diselesaikan guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Psikologi Pendidikan. Kemudian kami mengucapkan terima kasih kepada kelompok lima telah ikut andil dalam menyelesaikan makalah yang sederhana ini.
Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Siska Sulistyorini selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan. Salah satu tugas dosen atau guru adalah memberikan bimbingan kepada mahasiswa melalui percobaan-percobaan tertentu guna melatih kemampuannya. Dengan adanya tugas ini kami merasa senang, karena akan memberi motivasi kepada kami akan kewajiban sebagai mahasiswa yaitu mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan sebaik mungkin. Dengan adanya tugas ini juga, insya Allah akan meberikan sedikit tambahan wawasan dan ilmu kepada kami.
Namun kami juga meyakini akan hakikat kehidupan manusia tidak ada yang sempurna, tetapi dengan adanya kekurangan satu sama lain untuk saling melengkapi agar menjadi setitik kesempurnaan. Kami meyakini bahwa makalah sederhana ini juga jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu kritik dan saran dari pihak manapun sangat kami butuhkan agar mencapai sebuah kesempurnaan, baik mengenai cara penulisan, sampul, isi dan lain-lainya.
Demikian pengantar ini kami sampaikan, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi mahasiswa FIAI UII. Semoga Allah meridhoi kita semua. Aamiin.
Yogyakarta, 26 Oktober 2015
Penyusun,
DAFTAR ISI
I.       Kata Pengantar……………………………………………………………………………………..i
II.    Daftar Isi……………………………………………………………………………………………..ii
III. Pendahuluan
 1.         Latar belakang …………………………………………………………………………………1
 2.         Rumusan masalah……………………………………………………………………………..1
   3.         Tujuan penulisan………………………………………………………………………………1
IV. Pembahasan
1.      Pengertiaan kesiapan (readiness)………………………………………………………..2
2.      Prinsip-prinsip readiness…………………………………………………………………..2
3.      Pembentukan readiness dalam belajar………………………………………………..3
4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar……………………………..5
5.      Indikator pembentukan kesiapan belajar……………………………………………10
6.      Penghambat kesiapan belajar……………………………………………………………11
V.    Penutup
1.      Simpulan……………………………………………………………………………………….14
2.      Kritik dan saran………………………………………………………………………………14
VI. Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………..15

Bab I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam belajar sangatlah dibutuhkan persiapan diri untuk menghadapinya. Belajar adalah cara seseorang untuk mengetahui suatu perihal yang belum bisa dilakukan. Seseorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila dalam dirinya sudah terdapat “Readiness” untuk mempelajari sesuatu itu. Karena dalam kenyataannya setiap individu mempunyai perbedaan individu, maka masing-masing individu mempunyai latar belakang perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan adanya pola pembentukan readiness yang berbeda-beda pula di dalam diri masing-masing individu. Begitu pula readiness dalam belajar sangatlah berpengaruh pada perkembangan pribadi seseorang untuk mematangkan kesediaannya dalam belajar tersebut dengan begitu seseorang akan mudah dan siap menerima sesuatu yang akan dipelajari dalam pembelajarannya itu sendiri.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah pengertiaan kesiapan (readiness)?
  3. Apa saja prinsip-prinsip readiness?
  4. Bagaimana pembentukan readiness dalam belajar?
  5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar?
  6. Apa saja indikator pembentukan kesiapan belajar?
  7. Apa saja penghambat kesiapan belajar?

 

  • Tujuan Penulisan
  1. Dapat memahami apakah pengertiaan kesiapan (readiness). Saya
  2. Dapat mengertian apa saja prinsip-prinsip readiness.veni
  3. Dapat mengerti tentang bagaimana pembentukan readiness dalam belajar. wahyu
  4. Supaya tahu apa saja faktor-faktor yang m empengaruhi kesiapan belajar. Fajar dan isfario
  5. Memahami apa saja indikator pembentukan kesiapan belajar, dan, nisa fadhlilah
  6. Memahami apa saja penghambat kesiapan belajar.arin

Bab II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Readiness (kesiapan)

    Readiness diartikan sebagai kesiapan atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu. Seorang ahli bernama Cronbach memberikan pengertian tentang readiness sebagai segenap sifat atau kekuatan yang membuat seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu. Seseorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila di dalam dirinya sudah terdapat “readiness” (kemampuan/kesiapan) untuk mempelajari sesuatu itu. Sesuai dengan kenyataan, bahwa masing-masing individu mempunyai perbedaan individual, maka setiap mereka mempunyai latar belakang perkembangan masing-masing dan berbeda-beda. Maka dalam kehidupan seseorang akan berbuat sesuai dengan pengalam apa yang dialaminya, sehingga membuat ia dapat bereaksi dengan cara tertentu[1].

 

  1. Prinsip-Prinsip Readiness

Dari uraian di atas kita dapat mengetahui, bahwa readiness seseorang itu merupakan sifat-sifat dan kekuatan pribadi yang berkembang. Perkembangan ini memungkinkan orang itu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta mampu memecahkan persoalan yang selalu dihadapinya. Perkembangan readiness terjadi dengan mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Adapun prinsip-prinsip bagi perkem bangan readiness sebagai berikut:

  1. Setiap aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersama membentuk readiness, yaitu kemampuan dan kesiapan.
  2. Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis individu.
  3. Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-fungsi kepribadian individu, baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah.
  4. Apapbila readiness untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada diri seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan masa formatif bagi perkembangan pribadinya.

 

 

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, jelaslah bahwa apa yang dicapai oleh seseorang pada masa-masa yang lalu akan mempunyai arti bagi aktivitas-aktivitasnya sekarang. Apa yang telah terjadi pada saat sekarang akan memberikan sumbangan terhadap readiness individu di masa mendatang[2].

 

  1. Pembentukan Readiness Dalam Belajar

Pembentukan kesiapan dalam belajar melibatkan beberapa faktor yang besama-sama, yaitu:

  1. Perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis, ini menyangkut pertumbuhan terhadap kelengkapan pribadi seperti tubuh yang umumnya, alat-alat indra dan kapasitas intelektual.
  2. Motivasi, yang menyangkut kebutuhan, minat serta tujuan-tujuan individu untuk mempertahankan serta mengembangkan diri. Motivasi berhubungan dengan sistem kebutuhan dalam diri manusia serta tekanan-tekanan lingkungan.
  3. Kematangan sebagai dasar dari pembentukan Readiness. Perubahan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan perkembangan struktur fisiologis dalam sistem saraf, otak dan indra sehingga semua itu memungkinkan individu matang mengadakan reaksi-reaksi terhadap setiap stimulus lingkungan. Kematangan ialah keadaan atau kondisi bentuk struktur dan fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu organisme, baik terhadap satu sifat, bahkan seringkali semua sifat (English & English, 1958 : 308).

Kematangan (Maturity) membentuk sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu, yang disebut “readiness”. Rediness yang dimaksud yaitu readiness untuk bertingkah laku, baik tingkah laku yang instingtif, maupun tingkah laku yang dipelajari.

Yang dimaksud dengan tingkah laku instingtif yaitu suatu pola tingkah laku yang diwariskan (melalui proses hereditas). Ada 3 ciri tingkah laku instingtif, yaitu :

  1. Tingkah laku instingtif terjadi menurut pola pertumbuhan hereditas.
  2. Tingkah laku instingtif adalah tanpa didahului dengan latihan atau praktek sebelumnya.
  3. Tingkah laku instingtif berulang setiap saat tanpa adanya syarat yang menggerakkannya.

 

Individu mengalami pertumbuhan materiil jasmaniah bahwa pertumbuhan pada masing-masing individu tidak sama. Perbedaan itu dapat disebabkan oleh pengaruh fisiologis, psikologis dan bahkan sosial. Antara kondisi fisik dan kehidupan sosial terdapat hubungan timbal balik. Superioritas jasmanilah tidak mesti berarti menjadikan superioritas tingkah laku. Sering orang beranggapan, apabila seseorang memiliki kondisi fisik yang menonjol seperti bertubuh gemuk, kuat, cantik atau tampan dan sebagainya dapat menunjukkan pola tingkah laku yang dipuji oleh orang lain.

Pengaruh kondisi jasmaniah terhadap pola tingkah laku atau pengakuan sosial sangat tergantung kepada :

  1. Pengakuan individu yang bersangkutan terhadap diri sendiri (self concept).
  2. Pengakuan dari orang lain atau kelompoknya. Masing-masing individu mempunyai sikap tersendiri terhadap keadaan fisiknya.

 

Perubahan jasmaniah memerlukan bantuan “motor learning” agar pertumbuhan itu mencapai kematangan. Kematangan ataupun kondisi baru akan memperoleh pengakuan sosial, apabila individu yang bersangkutan mengusahakan “sosial learning”. Dengan demikian sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhannya, berlajarnya, dan lingkungan sosialnya.

  1. Lingkungan atau kultur sebagai penyumbang pembentukan Readiness.

Memang, anak mengalami pertumbuhan, dan pertumbuhan fisiknya merupakan penyumbang terpenting bagi pembentukan readiness. Perkembangan mereka tergantung pada pengaruh lingkungan dan kultur disamping akibat tumbuhnya pada pola jasmaniah. Stimulasi lingkungan serta hambatan-hambatan mental individu mempengaruhi perkembangan mental, kebutuhan, minat, tujuan-tujuan, perasaan, dan karakter individu yang bersangkutan. Dalam perkembangan kehidupan individu, lingkungan yang dihadapi atau direaksi semakin luas.

Meluasnya lingkungan dapat melalui beberapa cara antara lain:

  1. Perluasan paling nyata adalah dalam arah stimuli fisik anak. Makin tua umur manusia, makin luas pula medan geografis yang dihadapi dan arah stimulasinya semakin melebar pula.
  2. Manusia yang mengalami perkembangan kapasitas intelektual dan disamping itu pemikirannya meningkat, maka dalam hidupnya terjadi banyak perubahan lingkungan. Dan perkataan lain lingkungan banyak mengalami perubahan di dalam diri manusia, misalnya di dalam pengamalannya, kesan-kesannya, ingatannya, imajinasinya dan yang terlebih penting adalah dalam pemikirannya.
  3. Akibat dari keadaan nomor 2) di atas, terjadilah perubahan lingkungan di dalam kemampuan individu membuat keputusan. Dengan adanya lingkungan dalam diri manusia ini, maka manusia pun menjadi lebih bebas menggunakan dunia untuk tujuan-tujuan manusia. Perubahan lingkungan ini terjadi akibat belajar serta bertambahnya kematangan manusia. Dengan adanya kemampuan mengontrol lingkungan yang lebih luas maka makin banyaklah kesempatan manusia untuk belajar. Dengan demikian makin banyaknya manusia belajar, maka kematangan tidak semakin berkurang melainkan dapat lestari atau bahkan meningkat[3].

 

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesiapan Belajar

Kemampuan belajar peserta didik sangat menentu keberhasilannya dalam proses belajar. Tanpa ada kesiapan atau kesediaan ini proses belajar tidak akan terjadi. Kesiapan atau kemampuan itu dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya:

  1. Motivasi

Motivasi kelakuan manusia merupakan yang sangat luas. Banyak macam motivasi dan para ahli meneliti tentang bagaimana asal dan perkembangannya dan menjadi suatu “daya” dalam mengarah kelakukan seseorang. Menurut Suryabrata dan kawan-kawan dalam Djaali[4] motivasi adalah kondisi fsiologis dan psikologis yang terdapat di dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (kebutuhan).

Konteks motivasi di sini adalah motivasi prestasi belajar. Motivasi prestasi belajar adalah kondisi fisiologis dan psikologis (kebutuhan untuk berprestasi) yang terdapat di dalam diri siswa yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu setinggi mungkin.

McClelland dalam The Encyclopedia Dictionary of Psychology  yang disusun oleh Hare dan Lamb dalam Djaali[5] mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi adalah motivasi yang berhubungan dengan pencapaian beberapa standar kepandaian atau standar keahlian. Sementara itu Heckhausen [6]mengemukakan bahwa motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri siswa yang selalu berusaha atau berjuang  untuk meningkatkan atau memilihara kemampuannya setinggi mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan standar keunggulan.

Standar keunggulan ini, menurut Heckhausen terbagi atas tiga komponen, yaitu standar keunggulan tugas, standar keunggulan diri, dan standar keunggulan siswa lain. Standar keunggulan tugas adalah standar yang berhubungan dengan pencapaian tugas sebaik-baiknya. Standar keunggulan diri yaitu standar yang berhubungan dengan pencapaian prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan prestasi yang pernah dicapai selama ini.[7]

Di dalam motivasi ini, bisa dilihat karakteristik individu yang memiliki motivasi prestasi yang tinggi. Karakteristik itu adalah:

Pertama, menyukai situasi atau tugas yang menuntut tanggung jawab pribadi atas hasil-hasilnya dan bukan atas dasar untung-untungan, nasib, atau kebetulan.

    Kedua, memilih tujuan yang realitas tetapi menantang dari tujuan yang terlalu mudah dicapai atau terlalu besar risikonya.

    Ketiga, rasa takutnya akan kegagalan lebih rendah daripada keinginannya untuk berhasil.

    Keempat, tugas-tugas di kelas cukup memberi tantangan, tidak terlalu mudah tetapi juga tidak terlalu sukar, sehingga memberi kesempatan untuk berhasil.

 

Sedangkan menurut Khairani[8] motivasi yaitu energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri seseorang yang nampak pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi, sehingga mendorong individu untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebtuhan, atau keinginan yang harus terpuaskan.

Motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

  • Faktor Internal

Yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, yang meliputi persepsi indvidu mengenai diri sendiri, harga diri dan prestasi, harapan, kebutuhan, dan kesiapan kerja.

  • Faktor Eksternal

Yaitu faktor yag berasal dari luar diri individu itu sendiri, yang meliputi jenis dan sifat pekerjaan, kelompok kerja dimana individu bergabung, situasi lingkungan, dan sistem imbalan yang diterima.

  1. Sikap

Sikap dapat didefinisikan berbagai cara dan defini antara yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda. Namun dalam arian yang sederhana sikap adalah suatu kesiapan mental, emosional dan saraf yang tersusun melalui pengalaman  dan menberikan pengaruh langsung kepada respon individu  terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan objek itu. Dari ppengertian ini menunjukan bahwa sikap tidak dibawakan sejak lahir, melainkan berdasarkan pengalaman individu yang diikuti oleh objek tertentu.

Sikap belajar seseorang dapat diartikan sebagai kecendrungan perilaku seseorang tatkala ia mempelajari hal-hal yang bersifat akademik. Sikap belajar seeseorang terbagi menjadi dua komponen[9], yaitu Teacher Approval dan Education Acceptance. Teacher Approval yang berhubungan dengan pandangan sisiwa terhadap guru-guru. Education Acceptance  yaitu berkaitan dengan penerimaan atau penolakan terhadat tujuan yang akan dicapai.

Sikap belajar ini menentukan intensitas kegiatan belajar. Sikap belajar yang positif akan menimbulkan intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibandingan dengan sikap belajar yang negatif.

Peranan sikap tidak hanya ikut menentukan apa yang dilihat seseorang, melainkan bagaimana ia juga melihatnya. Maka bisa dikatakan, bahwa sikap belajar ikut berperan dalam menentukan aktivitas belajar siswa. Sikap belajar yang positif bisa dikatakan juga dengan minat dan motivasi.

Cara mengembangkan sikap positif yaitu:

  • Bangkitkan kebutuhan untuk menghargai keindahan, untuk mendapat penghargaan dan sebagainya.
  • Hubungkan dengan pengalaman yang lampau.
  • Beri kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik.
  • Gunakan berbagai metode mengajar seperti diskusi, kerja kelompok, dan membaca serta demonstrasi.
  1. Minat

Minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterkaitan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya dalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya. Crow an Crow mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Minat ini tidak dibawa sejak lahir, melainkan berasal dari pengalaman[10].

  1. Kebiasaan Belajar

Berbagai hasil penelitian menunjukan, bahwa hasil belajar mempunyai hasil kolerasi positif dengan kebiasaan belajar atau studty habit. Kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis. Kebiasaan belajar cenderung menguasai perilaku siswa pada setiap kali mereka melakukan kegiatan belajar. Sebabnya ialah karena kebiasaan mengandung motivasi yang kuat. Pada umumnya setiap orang bertindak berdasarkan force of habit sekalipun ia tahu, bahwa ada cara lain yang mungkin lebih menguntungkan.

  1. Konsep Diri

Konsep diri adalah pandangan seseorang dirinya sendiri yang menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang perilakunya, isi pikiran dan perasaannya,

serta bagaimana perasaan tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Konsep diri seseorang mula-mula terbentuk dari perasaan apakah ia diterima dan diinginkan kehadirannya oleh keluarganya.

Konsep diri ini menurut Erikson[11] berkembang melalui lima tahap, yaitu :

  • Perkembangan dari sesnse of trust vs sense of mistrust, yaitu pada anak usia 1-2 tahun.
  • Perkembangan dari sense of anatomy vs shame and doubt, terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Pada masa ini memungkinkan anak untuk mandiri.
  • Perkembangan dari sense of initiative vs sense of guilt, pada anak yang berusia 4-7 tahun.
  • Perkembangan dari sense of industry vs inferiority, pada usia 7-11 tahun.
  • Perkembangan dari sense of identity diffusion, pada remaja biasanya sangat besar minatnya terhadat diri sendiri.

Lebih lanjut dikatakan, konsep diri terbentuk karena empat faktor, yaitu:

  • Kemampuan (kompetence).
  • Perasaan mempunyai arti bagi orang lain (significance to others).
  • Kebijakan (virtues).
  • Kekuatan (power).

Selain faktor-faktor di atas, masih ada faktor lain yang menjadi pengaruh kesiapan belajar seseorang, yaitu[12] :

  1. Faktor Internal

Yaitu faktor yang berasal ari dalam diri, meliputi:

  • Kesehatan
  • Intelegensi dan Bakat
  • Minat dan Motivasi, dan
  • Cara Belajar
  1. Faktor Eksternal

Yaitu faktor yang berasal dari luar diri, meliputi:

  • Keluarga
  • Sekolah
  • Masyarakat, dan
  • Lingkungan sekitar

 

  1. Indikator Pembentukan Kesiapan Belajar

Untuk menunjang kesiapan belajar seseorang, ada beberapa indikator yang

mempengaruhinya, yaitu[13]:

  • Dari sudut siswa dapat dilihat dari:
  • Keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan, dan permasalahannya.
  • Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses, dan kejutan belajar.
  • Penampilan sebagai usaha/kekreatifan belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar-mengajar sampai mencapai keberhasilannya.
  • Kebebasan atau keleluasaan melakukan hal tersebut di atas tanpa tekanan guru/pihak lainnya (kemandirian belajar).
  • Dilihat dari sudut guru, tampak adanya:
  • Usaha mendorong, membina gairah belajar dan partisipasi siswa secara aktif.
  • Peranan guru tidak mendominasi kegiatan proses belajar siswa.
  • Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut cara dan keadaan masing-masing.
  • Menggunakan berbagai jenis metode mengajar serta pendekatan multi media.
  • Dari sudut program, hendaknya:
  • Tujuan interaksional serta konsep maupun isi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, minat, serta kemampuan subjek didik.
  • Program cukup jelas dimengerti siswa dan menentang siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
  • Bahan pelajaran mengandung fakta/informasi, konsep, prinsip, dan keterampilan.

 

  • Dari situasi belajar, tampak adanya:
  • Iklim hubungan intim dan erat antara guru dengan siswa, antara sisiwa dengan siswa, guru dengan guru, serta dengan unsur pimpinan di sekolah.
  • Gairah serta kegembiraan belajar siswa sehingga siswa memiliki motivasi yang kuat serta keleluasaan mengembangkan cara belajar masing-masing.
  • Dari sarana belajar, tampak adanya:
  • Sumber-sumber belajar bagi siswa.
  • Fleksibelitas waktu untuk melakukan kegiatan belajar.
  • Dukungan dari berbagai jenis media pengajaran.
  • Kegiatan belajar siswa tidak terbatas di dalam kelas tapi juga di luar kelas.

Dari berbagai indikator di atas, maka akan lebih mudah untuk menentukan titik kelemahan dan dan kemampuan serta kesiapan siswa dalam belajar.

  1. Penghambat Kesiapan Belajar

            Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa kesiapan adalah kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu. Sedangkan belajar menurut Suryabrata dalam Khairani[14] adalah suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri pelajar. Perubahan itu pada pokoknya didapatkan dari pengetahuan dan keterampilan baru. Dan perubahan juga berasal dari usaha manusia itu sendiri. Jika dikaitkan dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia, memang perubahan seseorang atau suatu kaum bukanlah dari orang lain melainkan dirinya sendiri yang mampu merubah dirinya[15]. Namun menurut Dalyono[16] belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarahkan kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.

Perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, perubahan yang dihasilkan harus relatif mantap artinya memiliki jangka waktu yang panjang. Karena pada akhirnya yang diharapkan dari belajar adalah mendapatkan perubahan yang baik, seperti keadaban, keterampilan, pengamatan, berfikir asosiatif dan daya ingat, berfikir rasional, sikap, inhibisi, apresiasi, dan tingkah laku yang efektif.

Untuk berlangsungnya perubahan yang diharapkan dari proses kesiapan atau kesedian belajar, ternyata perjalanan proses belajar itu tidak selalu berjalan sesuai planing, namun mengalami hambatan-hambatan tertentu. Hambatan ini sering disebut sebagai kesulitan belajar. Kesulitan belajar adalah suatu keadaan yang menyebabkan siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya[17].

Faktor yang dapat menyebabkan kesulitan belajar di sekolah itu banyak dan beragam. Apabila dikaitkan dengan faktor-faktor yang berperan dalam belajar, penyebab kesulitan belajar tersebut dapat kita kelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal)[18].

  1. Faktor internal
  • Faktor fisiologi

Yaitu sakit, kurang sehat, dan juga cacat tubuh. Seorang anak yang sakit atau kurang sehat akan mengalami kelemahan fisik, sehingga saraf sensorik dan motoriknya lemah akibatnya rangsangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan ke otak. Anak yang kurang sehat akan mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah lelah, pusing, mengantuk, daya konsentrasinya berkurang dan kurang bersemangat dalam belajar.

  • Faktor psikologi

Belajar memerlukan kesiapan rohani dan kesiapan mental yang baik, yang meliputi itelegensi, minat, bakat, motivasi dan sebagainya.

 

  1. Faktor eksternal
  • Faktor orang tua

Yang mencakup di dalamnya bimbingan dan didikan, hubungan orang tua dan anak, suasana keluarga atau rumah, dan keadaan ekonomi keluarga.

  • Faktor sekolah

Yang meliputi guru, alat pelajaran, kondisi gedung, kurikulum, waktu sekolah dan disiplin kurang.

 

Kemudian ada juga faktor- faktor lain yang menghambat atau yang termasuk kesulitan belajar, yaitu [19]:

  1. Stimulus Variables, mencakup:
  • Learning experience variables,

  Dalam hal ini yang pertama mengenai metode yang menyangkut kuat lemahnya motivasi untuk belajar, intensif tidaknya bimbingan guru, ada tidaknya kesempatan berlatih atau berpraktik, dan ada tidaknya upaya dan kesempatan. Kemudian yang kedua mengenai tugas yang menyangkut menarik tidaknya, bermakna atau tidak, serta sesuai atau tidak apa yang harus dilakukan dan dipelajari.

  • Enviromental variables,

Dalam hal ini menyangkut iklim belajar yang tergantung pada faktor tesedianya ruangan belajar yang emadai, alokasi waktu yang cukup dan tepat, fasilitas yang tersedia, dan harmanis atau tidaknya hubungan.

 

  1. Organismic Variables, mencakup:
  • Characteristic of the leaners,

Yang menjadi indikator di sini adalah intelegensi, usia dan taraf kemantangan, jenis kelamin, kesiapan dan kemantangan untuk belajar, sehingga yang menjadi permasalahan biasanya mengenai kurangnya kemampuan dan keterampilan kognitif, keterbatasan mengumpulkan dan mengintegrasikan informasi, tidak menpunyai tujuan sehingga tidak bergairah dalam belajar.

  • Mediating processes,

Yaitu mencakup presepsi, motivasi, dorongan, lapar, takut, cemas, dan sebagainya sehingga mempengaruhi prilaku belajar.

 

  1. Respon Variables, mencakup:

Tujuan-tujuan kognitif seperti, pengetahuan, konsep-konsep, dan keterampilan problem solving. Tujuan-tujuan afektif seperti sikap, nilai-nilai. Kemudian juga berkaitan dengan psikomotorik seperti menulis, olahraga, melukis, dan lain sebagainya.

Bab III

PENUTUP

  1. Simpulan
  • Readiness diartikan sebagai kesiapan atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu.
  • Setiap aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersama membentuk readiness, yaitu kemampuan dan kesiapan.
  • Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhan fisiologis individu.
  • Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-fungsi kepribadian individu, baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah.
  • Apapbila readiness untuk melaksanakan kegiatan tertentu terbentuk pada diri seseorang, maka saat-saat tertentu dalam kehidupan seseorang merupakan masa formatif bagi perkembangan pribadinya.
  • Pembentukan kesiapan yaitu perlengkapan dan pertumbuhan fisiologis, motivasi, kematangan sebagai dasar dan lingkungan atau kultur sebagai penyumbang pembentukan
  • Pembentukan kesiapan dipengeruhi oleh motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan konsep diri.
  • Indikator kesiapan belajar dapat dilihat melalui sudut pandang siswa, guru, situasi, program, dan sarana.
  • Faktor penghambat kesiapan belajar atau kesulitan dalam belajar ada dua yaitu faktor internal mencakup fisiologi dan psikologi. Kemudian ada faktor eksternal mencakup orang tua, guru, dan lingkungan.

 

  1. Kritik dan Saran

Alhamdulillah bersyukur kepada Allah swt, berkat taufiq dan hidayah-Nya kami kelompok lima (V/5) dapat menyelesaikan makalah ini, guna memenuhi tugas kelompok Psikologi Pendidikan. Kemudian kami merasa bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kritik dan saran dari pihak manapun sangat kami butuhkan agar dapat mmemperbaiki kekurangan makalah ini. Untuk kerjasamanya, kami ucapkan terimakasih.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dayono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta: Jakarta.

Djaali. 2009. Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta.

Kharani, Makmun. 2013. Psikologi Umum. Aswaja Pressindo: Yogyakarta.

Makmun, Abin Syamsuddin. 2009. Psikologi Kependidikan. Remaja Rosdakarya: Bandung.

[1] M. Dalyono, Psikologi pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal 165-167

[2] Ibid.

[3] M. Dalyono, Psikologi pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 162-167

[4] Djaali, Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta, 2009, hal.101

[5] Djaali, Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta, 2009, hal.101

[6] Ibid.

[7] Ibid, hal. 106

[8] Makmun Khairani, Psikologi Umum, Aswaja Pressindo, Yogyakarta, 2013, hal. 131-132

[9] Djaali, Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta, 2009, hal.115

[10] Ibid, 121

[11]

[12] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 55-60

[13] Ibid, hal. 196-197..

[14] Makmun Khairani, Psikologi Umum, Aswaja Pressindo, Yogyakarta, 2013, hal. 185

[15] Al-qur’an, Ar-Ra’d : 11

[16] M. Dalyono, Psikologi pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 212-213.

[17] Ibid, hal. 229.

[18] Ibid, hal. 231-236

[19] Abin Syamsudin, Psikologi Kependidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2009, hal. 324-325.

Satu pemikiran pada “Psikologi Pendidikan, Kesiapan Dalam Belajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s